Sel. Mar 2nd, 2021

Abstrak :
Perkembangan teknologi informasi (TI) sudah memasuki berbagai bidang. Salah satunya adalah di bidang
kesehatan pasien. Penggunaan TI sudah diberlakukan untuk para staff dalam instansi-instansi di dunia
medis. Sehingga pemanfaatan TI untuk dunia medis tidak asing lagi di kalangan masyarakat luas. TI
ditunjang dengan penggunaan beberapa aplikasi yang melibatkan pengolahan basis data pasien
menggunakan konsep data mining.
Beberapa langkah yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien adalah antara lain
dengan melakukan pencegahan yang menggunakan aplikasi sejenis SPK dan data mining yang bertujuan
untuk membantu dalam pengambilan keputusan untuk melakukan tindakan preventif. Setelah melakukan
pencegahan, sistem harus mampu memberikan respon yang cepat berdasarkan informasi yang tersimpan
yang sifatnya up to date dan selanjutnya menyediakan umpan balik secure cepat berdasarkan analisis
yang telah dilakukan oleh system.
Beberapa kendala utama yang muncul dalam pelaksanaan layanan kepada pasien seperti misalnya
finansial, kultural serta ketiadaan standar. Namun kendala seperti ini sedikit demi sedikit akan dikurangi
kedepannya untuk peningkatan pelayanan kesehatan.
Kata kunci : teknologi informasi , TI, data mining, pasien, medis.
Pendahuluan
Saat ini perkembangan teknologi sudah memasuki banyak bidang. Sudah banyak sekarang
instansi-instansi yang memanfaatkan TI untuk membantu aktivitas para staffnya. Pemanfaatan
TI di dunia medis sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat luas. TI sudah memegang


2
peranan yang penting dunia medis. Sebagai cabang ilmu baru di bidang komputer cukup banyak
penerapan yang dapat dilakukann oleh Data Mining. Apalagi ditunjang kekayaan dan
keanekaragaman berbagai bidang ilmu (artificial intelligence, database, statistik, pemodelan
matematika, pengolahan citra, dsb) (Sucahyo, 2003) membuat penerapan data mining menjadi
makin luas dimana salah satu penerapannya adalah di bidang medis.
Banyak fakta yang sudah beredar saat ini, jika TI sudah tidak dapat ditinggalkan lagi
penggunaannya dalam dunia medis. Seperti yang telah disampaikan beberapa waktu yang lalu
Menteri Kesehatan, Fadilah Supari yang mencanangkan gerakan nasional keselamatan pasien
(patient safety) di rumah sakit. Saat ini, berbagai rumah sakit sudah mulai menerapkan sistem
informasi rumah sakit berbasis komputer untuk mendukung manajemen keuangan (khususnya
billing systems), dan pelayanan terhadap pasien yang sudah melibatkan penggunaan data
mining. Jika rumah sakit sudah melewati tahap tersebut, langkah selanjutnya adalah
pengembangan sistem informasi klinik. Di sini, peran penting TI tidak lepas dari potensinya
untuk mencegah medical error. Seperti diketahui, ada dua pandangan mengapa error dapat
muncul di rumah sakit. Yang pertama, error terjadi karena kesalahan individual tenaga
kesehatan. Yang kedua, kesalahan individual tidak akan muncul jika manajemen memiliki
mekanisme untuk mencegah.
TI dapat berperan dalam mencegah kejadian medical error melalui tiga mekanisme yaitu (1)
pencegahan adverse event, (2) memberikan respon cepat segera setelah terjadinya adverse event
dan (3) melacak serta menyediakan umpan balik mengenai adverse event yang dapat dijelaskan
dengan lebih rinci sebagai berikut.
MENGADAKAN PENCEGAHAN (ADVERST EVENT)
Hasil penelitian klinis memerlukan waktu lama (rata-rata 17 tahun) sampai diterapkan dalam
praktik sehari-hari. Penyediaan fasilitas TI akan mendorong penyebarluasan informasi dengan
cepat. Sehingga, saat ini di berbagai rumah sakit pendidikan mulai tersedia fasilitas internet agar
para residen dan dokter dapat dengan cepat mengakses perkembangan ilmu kedokteran terbaru
serta menggunakannya (evidence based medicine). Pencegahan adverse event yang lebih riil
adalah penerapan sistem pendukung keputusan (SPK) yang diintegrasikan dengan system
informasi klinik. Berbagai macam contoh SPK mampu memberikan alert kepada dokter yang
muncul secara cepat pada situasi kritis yang kadang membahayakan keselamatan pasien. Pada
kondisi tersebut, informasi yang lengkap sangat penting dalam pengambilan keputusan,
misalnya: nilai laboratorium abnormal, kecenderungan vital sign, kontraindikasi pengobatan
maupun kegagalan prosedur tertentu. Pencegahan adverse event juga dapat dilakukan melalui
pengembangan berbagai aplikasi yang memungkinkan pemberian obat serta dosis secara akurat.
Penggunaan barcode serta barcode reader untuk kemasan obat akan mencegah kesalahan
pengambilan obat.
Selain itu, dalam bidang pelayanan asuransi kesehatan dalam artikelnya Sucahyo (2003)
menyatakan bahwa Australian Health Insurance Commision menggunakan data mining untuk
mengidentifikasi layanan kesehatan yang sebenarnya tidak perlu tetapi tetap dilakukan oleh
peserta asuransi. Hasilnya, Mereka berhasil menghemat satu juta dollar per tahunnya. Anda bisa
lihat di www.informationtimes.com.au/data-sum.htm. Tentu saja ini tidak hanya bisa diterapkan
untuk asuransi kesehatan, tetapi juga untuk berbagai jenis asuransi lainnya. Hal ini menunjukan
betapa pentingnya peranan TI yang menerapkan data mining dalam dunia kesehatan untuk
menghindari terjadinya pencegahan dalam mengambil suatu keputusan.
Artikel Populer IlmuKomputer.Com
Copyright © 2009 IlmuKomputer.Com
3
MEMBERIKAN RESPON CEPAT SETELAH TERJADINYA ADVERSE EVENT
Selanjutnya, sistem informasi klinik yang baik akan mampu memberikan umpan balik secara
cepat jika terjadi kesalahan atau adverse event. Contoh yang menarik adalah pengalaman
penarikan obat rofecoxib (keluaran Merck). Begitu FDA mengeluarkan rilis mengenai penarikan
obat tersebut, salah satu rumah sakit di amerika (AS) dengan cepat mengidentifikasi seluruh
pasien yang masih mendapatkan terapi obat tersebut, kemudian memberitahukan secara tertulis
maupun elektronik mengenai penghentian obat tersebut dan memberikan saran untuk kembali
ke rumah sakit agar mendapatkan obat pengganti. Semua surat kepada 11 ribuan pasien terkirim
sehari kemudian. Dalam waktu 7 jam dokter yang menggunakan system informasi klinikpun
tidak akan menemukan daftar obat tersebut dalam daftar peresepan, karena sudah langsung
dikeluarkan dari basis data obat.
Elfaizi dan Aprijani (2004) menjelaskan bahwa tiap individu mempunyai respon yang berbedabeda
terhadap berbagai pengaruh obat. Sebagian ada yang positif, sebagian ada yang sedikit
perubahan yang tampak pada kondisi mereka dan ada juga yang mendapatkan efek samping
atau reaksi alergi. Sebagian dari reaksi-reaksi ini diketahui mempunyai dasar genetik.
Pharmacogenetics adalah bagian dari pharmacogenomics yang menggunakan metode
genomik/Bioinformatika untuk mengidentifikasi hubungan-hubungan genomik, contohnya SNP
(Single Nucleotide Polymorphisms), karakteristik dari profil respons pasien tertentu dan
menggunakan informasi-informasi tersebut untuk memberitahu administrasi dan pengembangan
terapi pengobatan. Secara menakjubkan pendekatan tersebut telah digunakan untuk
menghidupkan kembali obat-obatan yang sebelumnya dianggap tidak efektif, namun ternyata
diketahui manjur pada sekelompok pasien tertentu. Disiplin ilmu ini juga dapat digunakan untuk
mengoptimalkan dosis kemoterapi pada pasien-pasien tertentu. Gambaran dari sebagian bidangbidang
yang terkait dengan Bioinformatika di atas memperlihatkan bahwa Bioinformatika
mempunyai ruang lingkup yang sangat luas dan mempunyai peran yang sangat besar dalam
bidangnya. Bahkan pada bidang pelayanan kesehatan Bioinformatika menimbulkan disiplin
ilmu baru yang menyebabkan peningkatan pelayanan kesehatan.
MELACAK DAN MENYEDIAKAN UMPAN BALIK SECARA CEPAT
Teknologi basis data dan pemrograman saat ini memungkinkan pengolahan data pasien dalam
ukuran terra byte lebih cepat. Metode datawarehouse dan datamining memungkinkan komputer
mendeteksi pola-pola tertentu dan mencurigakan dari data klinis pasien.
Metode tersebut relatif tidak memerlukan operator untuk melakukan analisis, tetapi komputer
sendirilah yang akan memberikan hasil analisis dan interpretasi tersebut. Oleh karena itu, istilah
rekam kesehatan elektronik menjadi kata kunci. Ketika data rekam medis pasien, obat, protokol
klinik, aset rumah sakit diintegrasikan dalam suatu database elektronik rumah sakit dapat
mewujudkan tiga hal tersebut di atas. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa teknologi informasi
akan membantu dalam pencapaian patient service melalui upaya-upaya perbaikan komunikasi,
melengkapi program sistem informasi dengan berbagai kalkulasi, pengembangan sistem
pendukung keputusan, respon cepat setelah adverse event maupun pencegahan adverse event.
Selain itu, upaya pengembangan arsitektur sistem informasi yang memungkinkan tenaga
kesehatan mengakses pengetahuan kedokteran terbaru.
Dengan munculnya aplikasi pharmacogenomics juga sangat membantu dalam dunia medis
karena pemanfaatannya yang sangat membantu dalam melakukan pemrosesan informasi yang
berkaitan dengan ilmu Farmasi dan Genetika, untuk contohnya adalah pengumpulan informasi
pasien dalam database.
Artikel Populer IlmuKomputer.Com
Copyright © 2009 IlmuKomputer.Com
4
KENDALA-KENDALA DALAM PELAKSANAAN PATIENT SERVICE
Ada beberapa kendala yang muncul dalam pelaksanaan patient service. Ada tiga kendala utama
yaitu finansial, kultural serta ketiadaan standar. Berbagai contoh di atas memerlukan investasi
financial yang tidak sedikit. Di sisi yang lain, banyak rumah sakit yang menganggap teknologi
informasi hanya sebagai komoditas, bukan sebagai sumber daya strategis. Yang
menguntungkan, tenaga kesehatan kita sebenarnya juga semakin peduli terhadap TI. Terdapat
fakta bahwa dokter baru kita saat ini semakin familiar dengan TI dan komunikasi. Ketika
fasilitas hotspot disediakan di lingkungan kampus, semakin banyak mahasiswa yang
memanfaatkannya baik melalui laptop maupun handheld.
Di Kanada, 50% dokter yang berusia di bawah 35 tahun menggunakan PDA. Hal ini
menunjukkan bahwa difusi teknologi informasi cukup cepat. Faktor kultural yang dapat
menghambat adalah bagaimana mengintegrasikan sistem informasi klinik ke dalam workflow
seorang dokter. Pada tingkat yang lebih tinggi, sampai sekarang Indonesia belum mengadopsi
standar pertukaran data kesehatan secara elektronik (HL 7) maupun standar data untuk berbagai
data klinis dan keperawatan (SNOMED, LOINC dan NANDA) Rumah sakit harus
menerjemahkan patient service ke dalam rencana strategis pengembangan sistem informasi
rumah sakit.
Dimulai dari pembentukan tim sistem informasi rumah sakit yang akan menterjemahkan bisnis
rumah ke dalam rencana strategis sistem informasi dan TI, pengembangan infrastruktur (mulai
dari database pasien elektronik, workstation), hingga ke pelatihan kepada staf medis,
keperawatan dan non medis. Selain itu, keterlibatan dokter merupakan salah satu kunci utama
keberhasilan penerapan sistem informasi klinik. Pada tingkat yang lebih tinggi, rumah sakit
perlu bekerja sama dengan dinas kesehatan dan pihak asuransi maupun organisasi untuk sharing
data serta melakukan evaluasi pelayanan medis melalui database rekam medis.
KESIMPULAN
Sebagai penutup, gerakan patient service seharusnya tidak berhenti sebagai aksi
seremonial semata. Tetapi harus ditindaklanjuti dengan tindakan nyata yang bertujuan untuk
menyiapkan infrastruktur informasi kesehatan nasional (yang dapat diterjemahkan hingga ke
level organisasi, yaitu rumah sakit). Tanggung jawab utama Departemen Kesehatan terletak
pada penentuan standar informasi kesehatan dan pengolahan data yang akan digunakan oleh
pihak pengembang perangkat lunak agar software yang mereka bikin dapat kompatibel satu
sama lain.
REFERENSI
[1] Fuad, A. 2005. Teknologi Informasi untuk Keselamatan Pasien. http://www.desentralisasikesehatan.
net/. 27 April 2008 14:10.
[2] Sucahyo, Y. G. 2003. Penerapan Data Mining Permasalahan Apa Saja yang Bisa
Diselesaikannya?. http://www.ilmukomputer.com. 27 April 2008 15:35.
[3] Elfaizi, M. A dan Aprijani, D. A. 2004. Bioinformatika Perkembangan, Disiplin Ilmu dan
Penerapannya di Indonesia.
http://kambing.ui.edu/bebas/v06/Kuliah/SistemOperasi/2003/50/. 3 Mei 2008 20:58.
Artikel Populer IlmuKomputer.Com
Copyright © 2009 IlmuKomputer.Com
5
BIOGRAFI PENULIS
Agus Aan Jiwa Permana, lahir di Denpasar tanggal 4 Agustus 1987. Adapun riwayat
pendidikan adalah sebagai berikut : Menamatkan SD di SD 4 Perean, melanjutkan SLTP
di SLTP N 2 Baturiti, kemudian masuk di SMU N 1 Tabanan, dan setelah tamat SMU
melanjutkan kuliah di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja-Bali,
mengambil jurusan D-3 Manajemen Informatika.
Saat kuliah aktif di dalam organisasi kemahasiswaan seperti himpunan maha jurusan
(HMJ), SENAT, dan UKM. Pada tahun 2007 lulus dari Undiksha dan kemudian
melanjutkan S1 ke Yogyakarta di Universitas Gadjah Mada (UGM), mengambil jurusan
Ilmu Komputer. Saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa aktif di UGM. Berkeinginan
menjadi seorang pengembang IT. Tertarik terhadap jaringan komputer, sistem pendukung keputusan (SPK), dan
sistem informasi. Saat ini sedang mengambil skripsi dengan minat sistem cerdas.
Informasi lebih lanjut tentang penulis ini bisa didapat melalui:
URL : http://agus-aan.web.ugm.ac.id
Email : studywithaan@gmail.com
agus-aan@mail.ugm.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *